Bismillaahirrahmaanirrahiim
Langkah awal untuk mengetahui makna ayat dalam surat Al Fatihah adalah mengetahui arti ayat kemudian membaca tafsir untuk mendapatkan penjelasan ayat tersebut. Pada akhirnya mempelajari makna ayat untuk memperoleh pelajaran, meskipun harus berulang-ulang dalam proses belajar.
Memperhatikan Ayat 1 Surat Al Fatihah
Berdasarkan Tafsir Al-Mishbah. Arti dari Bismillaahir-rahmaanir-rahiim adalah Dengan Nama Allah yang Rahmaan dan Rahiim. Pada Tafsir Al Mishbah, bapak M.Quraish Shihab menjelaskan bahwa pesan pertama Allah agar manusia memulai setiap aktivitasnya dengan nama Allah, bukan atas dorongan hawa nafsu. Allah mencurahkan rahmat-Nya dan Allah memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya.
Beliau menjelaskan bahwa memulai dengan nama Allah adalah adab dan bimbingan pertama yang diwahyukan Allah kepada nabi-Nya, Iqra’ Bismi Rabbika. Ada penjelasan tafsir dari Sayyid Quthub dalam Tafsir Al-Mishbah, permulaan itu sesuai dengan kaidah utama ajaran Islam yang menyatakan bahwa Allah, Dia yang Pertama dan Dia pula yang Terakhir, Dia Yang tampak dengan jelas (bukti-bukti wujud-Nya) dan Dia pula yang Tersembunyi (terhadap siapa pun hakikat-Nya). Dia Yang Mahasuci itu merupakan wujud yang haq, yang dari-Nya semua wujud memperoleh wujud-Nya, dan dari-Nya bermula semua yang memiliki permulaan. Sebab itu, dengan nama-Nya segala sesuatu harus dimulai dan dengan nama-Nya terlaksana setiap gerak dan arah.
Memperhatikan Ayat 2 Surat Al Fatihah
Berdasarkan Tafsir Al-Mishbah. Arti dari Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin adalah segala puji hanya bagi Allah, pemelihara seluruh alam. Pada Tafsir Al Mishbah, bapak M.Quraish Shihab menjelaskan bahwa Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin mempunyai dua sisi makna. Pertama berupa pujian kepada Allah dalam bentuk ucapan, saat merasakan adanya anugerah illahi. Kedua berupa syukur kepada-Nya dalam bentuk perbuatan atas nikmat yang dianugerahkan Allah.
Pada kata Alhamdu lillaahi mengandung makna pengkhususan bagi-Nya yang berarti bahwa segala pujian hanya dipersembahkan kepada Allah SWT. Hal ini karena Dia yang menciptakan segala sesuatu dan segalanya diciptakan-Nya dengan baik serta dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan.
Kalimat Rabb al-‘aalamiin merupakan keterangan lebih lanjut tentang layaknya segala pujian hanya tertuju pada Allah SWT. Dan menegaskan bahwa Allah adalah pendidik dan pemelihara seluruh alam. Ayat ini menenangkan manusia bahwa segalanya sudah dipersiapkan Allah, tidak ada satupun kebutuhan makhluk dalam rangka mencari kebutuhan hidupnya, yang tidak disediakan Allah.
Memperhatikan Ayat 3 Surat Al Fatihah
Arti dari Ar-Rahmaan Ar-Rahiim pada buku Al-Qur’an dan Makna-nya yang diterjemahkan bapak M. Quraish Shihab adalah Pemberi Kasih Yang Maha Kasih. Berdasarkan tafsir Al Mishbah, Ar-Rahmaan Ar-Rahiim merupakan penegas dari ayat sebelumnya.
Bapak M. Quraish Shibab menjelaskan bahwa pemeliharaan tidak dapat terlaksana dengan baik dan sempurna kecuali bila disertai dengan rahmat kasih sayang. Pemeliharaan-Nya itu tidak atas dasar kesewenang-wenangan namun diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.
Bapak M. Quraish Shibab cenderung menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim terambil dari akar kata rahmat. Ketika rahmat disandang oleh manusia, akan nampak kelembutan hati yang mendorong manusia untuk berbuat baik. Dengan kata Ar-Rahman tergambar bahwa Allah mencurahkan rahmat-Nya dan dengan Ar-Rahiim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya.
Bapak M. Quraish Shibab dalam Tafsir Al Mishbah menjelaskan penyebutan Ar-Rahiim setelah Ar-Rahman bertujuan menerangkan anugerah Allah, apapun bentuknya, Allah sama sekali tidak ada kepentingan dan pamrih, tetapi semata-mata lahir dari sifat rahmat dan kasih sayang.
Pendapat lain yang ada pada Tafsir Al Misbah menjelaskan bahwa rahman adalah rahmat Tuhan yang sempurna tetapi sifatnya sementara dan tercurah kepada seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman ataupun tidak beriman yang dirasakan di dunia. Rahim menunjukkan kemantapan dan kesinambungan nikmat-Nya yang terwujud di akhirat dan diraih oleh orang yang taat dan bertaqwa.
Memperhatikan Ayat 4 Surat Al Fatihah
Arti dari Maaliki yaumid-diin pada Tafsir Al Misbah karya bapak M. Quraish Shihab adalah Pemilik Hari Pembalasan. Beliau menjelaskan bahwa ada dua bacaan populer menyangkut kata malik yang berarti raja dan kata maalik yang berarti pemilik. Dalam hal ini Allah adalah raja sekaligus pemilik.
Dalam Tafsir Al Mishbah dijelaskaan bahwa salah satu tema pokok yang menjadi perhatian Al-Qur’an adalah persoalan hari pembalasan. Ayat keempat Al-Fatihah menyatakan bahwa Allah adalah pemilik atau raja di hari kemudian, berdasarkan penegasan ini setidaknya ada dua makna. Pertama, Allah yang menentukan dan hanya Allah yang mengetahui kapan tibanya hari tersebut. Kedua, Allah yang menguasai segala sesuatu yang terjadi dan apapun ketika itu.
Dalam Tafsir Al Mishbah ada dua tinjauan pengertian tentang hari pembalasan, secara lahiriyah dan secara batiniyah. Hari pembalasan pada ayat tersebut secara lahiriyah bermakna jelas kemandirian Allah dalam memberi balasan. Kemandirian yang menjadikan semua pihak yang pada awalnya ragu, atau yang merasa mempunyai kemampuan, menjadi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hari itu dimulai dari peristiwa kebangkitan dari kubur sampai dengan saat di surga atau neraka.
Adapun makna batiniyah dari hari pembalasan dapat jelasakan bahwa, pada hakekatnya hari pembalasan dapat dimulai sejak saat seseoraang melakukan pelanggaran, saat itu juga terjadi pembalasan Tuhan. Pembalasan Allah tidak ditunda, hanya saja kadang pembalasan tersebut tidak tampak atau tidak dirasakan manusia.
Memperhatikan Ayat 5 Surat Al Fatihah
Arti dari Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin pada buku Al-Qur’an dan makna-Nya yang diterjemahkan bapak M. Quraish Shihab adalah hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.
Bapak M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah menyebutkan bahwa Al-Qur’an terbagi menjadi 2 kelompok dan Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin merupakan bagian dari kelompok 2 dari ayat-ayat Al-Fatihah, yaitu menyangkut permohonan. Beliau menuliskan bahwa redaksi ayat ini hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, merupakan bukti bahwa kalimat-kalimat tersebut berupa pengajaran.
Bapak M. Qurish Shihab menuliskan bahwa ada pengajaran Allah melalui dua kata terangkai iyyaaka dan na’budu. Iyyaaka (hanya kepada-Mu) merupakan kata yang menunjuk pada kata ganti (persona) kedua (kamu), dalam hal kata ganti kamu tersebut adalah Allah. Sebelum ayat ini, redaksi yang digunakan menunjuk pada kata ganti (persona) ketiga. Sehingga ayat kelima Al-Fatihah, Allah menunjukkan dengan mengajarkan untuk mengucapkan iyyaaka menuntut yang membaca ayat tersebut untuk menghadirkan Allah dalam pikirannya. Di samping itu, redaksi iyyaaka mengandung arti pengkhususan, yaitu tiada selain Engkau. Perbuatan baik apapun yang bersifat ibadah dilakukan hanya ditujukan pada Allah, tidak ada selain-Nya.
Hal ini berarti pandangan hati sepenuhnya hanya kepada-Nya saja. Sehingga dapat diketahui adanya hakikat pengawasan yang merupakan tema utama dalam surat Al-Fatihah. Diperkuat dengan kata ibadah yang intinya merupakan penyerahan diri secara penuh kepada Allah. Allah memberikan potensi pada manusia berupa anugerah naluri untuk tidak puas dengan apa yang diperolehnya dari tingkatan-tingkatan kesempurnaan dan makrifat. Allah menjadikan potensi pada mereka untuk meraih segala macam kebajikan duniawi dan ukhrawi dengan prinsip-prinsip kebajikaan melalui pengajaran utusan-utusan-Nya, berupa wahyu dari-Nya. Penerimaan pengajaran tersebut berkaitan dengan pengawasan diri terhadap gejolak nafsu manusia yang mengajak pada kedurhakaan Allah.
Oleh karena itu pengawasan diri membutuhkan kesadaran tentang Allah yang dapat menganugerahkan kebajikan dan sanksi. Demikian Thahir Ibn’Asyur dalam kitab Tafsir Al Mishbah. Bapak M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ibadah merupakan kebutuhan manusia daripada suatu kewajiban. Kata na’budu diterjemahkan dengan menyembah, mengabdi, dan taat.
Memperhatikan Ayat 6 Surat Al Fatihah
Arti dari Ihdinas-siraatal-mustaqiim pada buku Al-Qur’an dan Maknanya yang diterjemahkan bapak M. Quraish Shihab adalah bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas.
Bapak M. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al Mishbah menyatakan bahwa setelah mempersembahakan puja-puji kepada Allah dan mengakui kekuasaan dan kepemilikan Allah. Ayat keenam merupakan pernyataan hamba tentang ketulusan beribadah serta kebutuhannya kepada pertolongan Allah.
Pada ayat ini, sang hamba mengajukan permohonan kepada Allah, yaitu bimbing dan antar kami memasuki jalan yang lebar dan luas. Beliau menjelaskan bahwa ihdinaa diambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ha, dal, dan ya yang maknanya berkisar pada dua hal, yaitu tampil ke depan memberi petunjuk dan menyampaikan dengan lemah lembut.
Dalam hal ini Allah menganugerahkan petunjuk. Petunjuk tingkat pertama (naluri) terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencapai hal-hal yang dibutuhkan dan tidak mampu mencapai apapun yang berada di luar tubuh pemilik naluri itu. Selanjutnya petunjuk tingkat kedua (panca indera) terbatas pada penciptaan dorongan yang berada di luar tubuh pemilik naluri itu, namun ketajaman dan kepekaan pada kemampuan indra manusia sering kali memperoleh hasil yang tidak menggambarkan hakikat yang sebenarnya.
Selanjutnya petunjuk tingkat ketiga (akal) kemampuan yang meluruskan kesalahan panca indera. Akal yang mengkoordinasikan semua informasi yang diterima indra kemudian memberikan kesimpulan sedikit atau banyak yang dapat berbeda dengan hasil informasi indera. Meski begitu akal hanya berfungsi pada batas-batas tertentu, dan tidak mampu menuntun manusia keluar jangkauan alam fisika. Manusia kadang teperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal sehingga akal bukan jaminan menyangkut seluruh kebenaran yang didamba.
Petunjuk tingkat terakhir (hidayah agama), petunjuk yang melebihi kemampuan akal dan meluruskan kekeliruan dalam bidang-bidang tertentu. Hidayah agama terbagi menjadi dua. Hidayah agama yang menuju pada kebahagian dunia dan akherat dan hidayah kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk.
Memperhatikan Ayat 7 Surat Al Fatihah
Arti dari Siraatalladziina an’amta ‘alaihim, gairil-magduubi ‘alaaihim wa lad-daalliin pada buku Al-Qur’an dan Maknanya yang diterjemahkan bapak M. Quraish Shihab adalah (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan (bukan pula) jalan mereka yang sesat.
Bapak M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa nikmat adalah kesenangan hidup dan kenyamanan yang sesuai dengan diri manusia yang menghasilkan kondisi menyenangkan serta tidak menimbulkan hal-hal negatif (mencakup kebajikan duniawi dan ukhrawi).
Bapak M. Quraish Shihab menerangkan bahwa sementara ulama menyatakan bahwa pengertian asal nikmat berarti kelebihan atau pertambahan, sehingga nikmat adalah sesuatu yang baik dan berlebih dari apa yang dimiliki sebelumnya.
Bapak M. Quraish Shihab menegaskan bahwa keberadaan manusia di pentas bumi ini merupakan nikmat, atau suatu penambahan dan kelebihan. Kesemuaanya yang ada dalam diri manusia, dalam lingkungan bahkan di seluruh alam raya ini merupakan nikmat-nikmat Allah sehingga manusia tidak mungkin mampu menghitung nikmat tersebut, sebab tak terbatas.
Nikmat-nikmat Allah beraneka ragam dan bertingkat-tingkat, baik dari segi kualitas ataupun kuantitas. Sehingga kata nikmat yang dimaksud dalam ayat ke tujuh Al-Fatihah adalah nikmat yang paling bernilai yang tanpa nikmat itu tentunya nikmat-nikmat yang lain tidak akan mempunyai nilai yang berarti, bahkan dapat menjadi niqmah yakni bencana.
Bapak M Quraish Shihab menyatakan bahwa nikmat yang paling bernilai adalah nikmat memperoleh hidayah Allah serta ketaatan kepada Allah dan RasulNya, yakni nikmat Islam dan penyerahan diri kepada-Nya. Manusia yang taat melaksanakan pesan-pesan ilahi yang merupakan nikmat terbesar, merekalah yang masuk dan menelusuri ash-shiraat al-mustaqiim.
Berdasarkan surat An Nisaa ayat 69, bapak M Quraish Shihab pada Tafsir Al Mishbah menguraikan bahwa ada 4 kelompok orang yang mendapatkan nikmat, yaitu para nabi, shaiddiiqiin, syuhada’, dan orang-orang saleh. Sehingga melalui ayat ketujuh tersebut manusia saat ini dapat bermohon kiranya keempat kelompok tersebut (siapapun, kapanpun, dan dimanapun) dapat menjadi panutan manusia dalam berkehidupan.
Bapak M Quraish Shihab menerangkan bahwa perlunya perenungan kandungan pada ayat ketujuh, pembatas nikmat Tuhan yang sangat bernilai hanya dalam bidang-bidang ketaatan beragama kepada-Nya atau dalam bidang-bidang kebenaran dan kebajikan tanpa menyinggung nikmat-nikmat lain (kesehatan, kekayaan, kedudukan, dan sebagainya). Pembatasan ini lebih terasa setelah adanya kelanjutan ayat berikutnya. Dari pembatasan makna nikmat hanya pada segi-segi keagaman dan kebenaran saja, seseorang dapat memperoleh kesan bahwa pokok utama dalam berkehidupan adalah mencapai kebenaran dan melakukan kebajikan. Sumber nikmat adalah Allah.
Wallahu'alam
