Bismillaahirrahmaanirrahiim
Langkah awal untuk mengetahui makna ayat dalam surat Al Fatihah adalah mengetahui arti ayat kemudian membaca tafsir untuk mendapatkan penjelasan ayat tersebut. Pada akhirnya mempelajari makna ayat untuk memperoleh pelajaran, meskipun harus berulang-ulang dalam proses belajar.
Memperhatikan Ayat 1 Surat Al Fatihah Berdasarkan Tafsir Al-Azhar, arti dari Bismillaahir-rahmaanir-rahiim adalah dengan nama Allah, Yang Mahamurah, Maha Penyayang. Pada Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa bacaan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim merupakan suatu pengharapan atau doa apa saja yang dikerjakan mendapat karunia Rahmaan dan Rahiim dari Allah.
Ar-Rahman dan Ar-Rahim merupakan sifat-sifat Allah, keduanya dari satu rumpun, yaitu rahmat, yang berarti murah, kasih sayang, cinta, santun, dan perlindungan. Hal ini menjelaskan bahwa sifat utama yang diketahui dan dirasakan oleh manusia ialah Allah yang bersifat Rahmaan dan Rahiim.
Memperhatikan Ayat 2 Surat Al Fatihah Berdasarkan Tafsir Al-Azhar, arti dari Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin adalah segala puji-pujian adalah kepunyaan Allah, pemelihara semesta alam. Pada Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin terbagi menjadi dua pemahaman yaitu tauhid uluhiyah (Alhamdu Lillaahi) dan tauhid rububiyah (Rabbil ‘Aalamiin).
Kedua pemahaman tersebut merupakan dasar tauhid yang dalam sekali dan menjelaskan tidak ada lain yang patut dipuji, melainkan Dia. Buya Hamka menegaskan bahwa Alhamdu lillaahi, segala puji-pujian hanya untuk Allah. Tidak ada lain yang berhak mendapat pujian itu. Meskipun semisal ada seseorang yang berjasa baik kepada orang lain dan orang lain memujinya, hakekat puji hanya pada Allah. Sebab, seseorang itu tidak akan dapat berbuat apa-apa kalau tidak karena Allah. Janganlah lupa bahwa yang mempunyai pujian itu ialah Allah, bukan manusia.
Kalimat Rabb al-‘aalamiin merupakan keterangan lebih lanjut tentang layaknya segala pujian hanya kepada Allah. Menegaskan bahwa semua pemeliharaan, penjagaan, pendidikan, dan perlindungan oleh Allah, sejak manusia masih dalam nuthfah sampai menjadi makhluk berakal hingga meninggal kelak. Karenanya manusia diajarkan untuk mengucapkan pujian kepada-Nya. Buya Hamka memberikan pemahaman bahwa manusia diberi kedudukan yang tinggi, insan sebagai khalifah Allah, di tengah-tengah alam yang luas.
Memperhatikan Ayat 3 Surat Al Fatihah berdasarkan Tafsir Al-Azhar, arti dari Ar-Rahmaan Ar-Rahiim adalah Yang Maha Murah dan Maha Penyayang atau bisa diartikan juga Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Buya Hamka pada tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa Ar-Rahmaan Ar-Rahiim menyempurnakan maksud dari ayat sebelumnya yaitu Allah sebagai rabb, sebagai pemelihara dan pendidik bagi seluruh alam.
Pemeliharan yang Dia berikan adalah sifat Allah yang rahman itu telah membekas dan berjalan ke atas hamba-Nya. Bartambah tinggi kecerdasan hamba itu, semakin terasa rahman Allah terhadap dirinya. Sedangkan sifat rahim ialah sifat tetap pada Allah dan tidak pernah padam kepada Allah. rahman dan rahim mengandung sumber kata yang sama, yaitu rahmat.
Buya Hamka pada Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa rahmat Illahi merupakan pancaran dari sifat Allah yang rahman dan rahim, Yang Murah dan Kasih Sayang dapat dirasakan makhluk. Besarnya rahman dan rahim Allah dapat mensirnakan rasa benci, dengki, dan dendam. Beliau menjabarkan surat Al-Balad ayat 17 yang menjelaskan bahwa untuk sampai pada masyarakat yang adil dan makmur di dunia ini adalah masyarakat yang marhamah, yaitu saling mengasihi, saling mencintai, saling membantu, yang timbul dari rasa kemurahan dan kesayangan.
Memperhatikan Ayat 4 Surat Al Fatihah
Berdasarkan Tafsir Al-Azhar, arti dari Maaliki yaumid-diin adalah yang menguasai hari pembalasan. Buya Hamka pada kitab Al-Azhar menjabarkan bahwa kata Maaliki (Yang Menguasai) dapat ditinjau dari 2 kondisi. Pertama, ketika memanjangkan maa, maaliki berarti Yang Menguasai. Kedua, ketika memendekkan ma, maliki berarti Yang Empunya hari pembalasan, Buya Hamka menerangkan bahwa kata Ad-din yang berarti pembalasan (arti lain ad-din adalah agama, namun dalam makna ayat ke 4 surat ini yang paling tepat adalah pembalasan).
Beliau menerangkan bahwa berdasarkan Islam, segala gerak-gerik manusia dalam menjalani kehidupan tidak dapat lepas dari lingkungan agama dan tidak lepas dari salah satu hukum yang ada (wajib, sunnah, haram, makruh, dan jaiz). Semua yang dilakukan manusia, kelak akan mendapatkan perhitungan di hadapan kehadirat Allah di akhirat. Perbuatan baik yang dilakukan manusia akan mendapatkan balasan baik dari Allah. Perbuatan buruk yang dilakukan manusia akan mendapatkan balasan buruk dari Allah. Yang memberikan pembalasan tersebut adalah Allah sendiri dengan seadil-adilnya.
Buya Hamka mendeskripsikan perbuatan manusia dalam 2 kondisi, yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk. Perbuatan baik yang mendapat balasan baik dari Allah adalah perbuatan yang diliputi oleh rasa rahmat, pancaran sifat Allah yaitu rahman dan rahim. Perasaan yang diliputi rahmat tersebut merupakan perasaan yang ada dalam kalbu yang meliputi seluruh jiwa. Namun rahman dan rahim tidaklah lengkap kalau tidak disempurnakan dengan sifat adil. Perbuatan buruk yang mendapat balasan buruk dari Allah adalah perbuatan yang diliputi oleh rasa benci, dengki, khizit, dan khianat. Perbuatan buruk cenderung tidak ada rasa syukur dan tidak ada rasa terima kasih. Keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Terkadang pandai menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Kondisi tersebut berlangsung hingga kematian, keadaan tetap demikian.
Buya Hamka menerangkan bahwa di dunia, tidak ada pembalasan yang sebenarnya dan di dunia tidak ada perhitungan yang adil, kecuali hari pembalasan yang merupakan hari sebenarnya. Baik dan buruk yang sudah dilakukan manusia di dunia, tidak terbuang percuma, melainkan akan diperhitungkan dan dibalas secara adil di akhirat. Allah dapat bersifat Maha Murah dan penyayang tetapi juga dapat berlaku keras kepada yang melanggar. Sebab Allah menguasai penuh hari pembalasan. Wajar apabila manusia mengharapkan kasih sayang dan kemudratan-Nya dan manusia pun takut akan hukuman/ sanksi-Nya.
Memperhatikan Ayat 5 Surat Al Fatihah
Berdasarkan Tafsir Al-Azhar, arti dari Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah Engkaulah yang kami sembah dan Engkaulah tempat kami memohon pertolongan. Buya Hamka menjelaskan bahwa kata iyyaaka disebutkan sebanyak dua kali yang artinya Engkaulah, dan makna dari kata Engkaulah adalah hanya Engkau sajalah.
Kata iyyaaka yang pertama diikuti oleh kata na’budu yang artinya kami sembah dan iyyaaka yang kedua diikuti oleh kata nasta’inu yang artinya tempat kami memohon pertolongan. Pada Tafsir Al Azhar, Buya Hamka mengatakan bahwa kata na’budu berpangkal dari kalimat ibadah, dan hakikat ibadah hanya pada Allah saja. Sementara kata sembah, bisa digunakan untuk raja atau kepada pemangku agama pada beberapa daerah. Sehingga menurut beliau arti dari iyyaaka na’budu seharusnya hanya kepada Engkau kami beribadah.
Berdasarkan peninjauan Buya Hamka, ayat ke lima Al-Fatihah merupakan penegasan dari ayat ke dua surat Al-Fatihah. Pada ayat ke lima lebih dijelaskan lagi, hanya kepada-Nya dihadapkan sekalian persembahan dan ibadah, sebab hanya Dia sendiri saja - tidak bersekutu dengan yang lain - yang memelihara alam ini. Maka mengakui bahwa yang patut disembah sebagai ilah hanya Allah, disebut Tauhid Uluhiyah. Arti yang luas tentang ibadah adalah memperhambakan diri dengan penuh keinsafan dan kerendahan serta dipatrikan lagi oleh cinta. Dengan kata lain mengakui bahwa manusia adalah hamba-Nya bahkan budak-Nya.
Pada Tafsir Al Azhar, Buya Hamka mengatakan bahwa kata nasta’inu berpangkal dari kalimat isti’anah. Dalam ayat ini, Buya Hamka menerangkan bahwa ada pernyataan pengakuan hanya kepada-Nya saja memohon pertolongan, tiada kepada orang lain. Maka mengakui yang dapat memohon pertolongan hanya Allah, disebut Tauhid Rububiyah, yang berarti menimbulkan kekuatan di dalam jiwa, bahwa tidak mengharapkan pertolongan dari yang lain sebab yang lain tidak berkuasa dan tiada daya upaya untuk dapat menolong. Tauhid ini membangkitkan kekuataan pada diri sendiri supaya langsung berhubungan dengan Allah, yang menjadi sumber dari segala kekuatan.
Memperhatikan Ayat 6 Surat Al Fatihah Berdasarkan Tafsir Al-Azhar, arti dari Ihdinas-siraatal-mustaqiim adalah tunjukilah kami jalan yang lurus. Dalam meminta ditunjuki dan dipimpin suatu jalan yang lurus, Buya Hamka menguraikan beberapa pandangan. Pandangan dari sebagaian tafsir, bahwa perlengkapan menuju jalan yang lurus yang dimohonkan kepada Allah ada empat, yaitu al-irsyad yang berarti agar dianugerahi kecerdasan dan kecerdikan, sehingga dapat membedakan yang salah dan yang benar, at-taifiq yang berarti bersesuaian kehendaknya dengan apa yang direncanakan Allah, al ilham yang berarti diberi petunjuk supaya dapat mengatasi sesuatu yang sulit, dan ad-dialah yang berarti ditunjuk dalil-dalil dan tanda-tanda dimana tempat yang berbahaya atau dimana tempat yang tidak boleh dilalui.
Buya Hamka menguraikan berdasar riwayat Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, menurut beliau yang dimaksud dengan jalan yang lurus ialah mohon ditunjuki agama yang benar. Namun ada yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah agama islam. Dari uraian tersebut Buya Hamka menggabungakan menjadi satu, makna jalan yang lurus memang agama yang benar yaitu agama islam yang sumber petunjuknya tidak lain adalah Al-Qur’an dengan mengambil contoh dari perbuatan Nabi Muhammad dan para sahabat.
Buya Hamka pada kitab Tafsir Al Azhar menyatakan bahwa memohon petunjuk jalan lurus kepada Allah merupakan permohonan puncak dari segala permohonan. Dari ayat ke enam ini dapat diketahui pentingnya memohon pertolongan kepada-Nya. Allah telah menakdirkan manusia hidup di dunia ini, Buya Hamka menjelaskan bahwa ini berarti manusia melalui suatu jalan dan menempuh perjalanan. Akhirat merupakan perjalanan setelah melalui perjalanan di dunia. Perjalanan di dunia merupakan perbuatan nyata yang melibatkan perbuatan panca indera dan yang melibatkan perbuatan akal. Sehingga perbuatan tersebut perlu untuk dipertanyakan apakah dapat memberikan kebermanfaatan untuk diri sendiri sekaligus hubungan dengan sesama manusia dan juga hubungan dengan Allah. Buya Hamka mengingatkan dalam Tafsir Al Azhar bahwa inti dari permohonan, permintaan, dan pertolongan adalah petunjuk Allah.
Memperhatikan Ayat 7 Surat Al Fatihah
Berdasarkan Tafsir Al-Azhar, arti dari Siraatalladziina an’amta ‘alaihim, gairil-magduubi ‘alaaihim wa lad-daalliin adalah jalan orang-orang yang telah Engkau karuniai nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai atasnya dan bukan jalan mereka yang sesat.
Buya Hamka menjelaskan uraian awal dari ayat ke tujuh pada kalimat jalan orang-orang yang telah Engkau karuniai nikmat atas mereka bahwa pada masa lalu, Allah telah memberikan karunia nikmat kepada orang-orang yang telah menempuh jalan yang lurus. Dijabarkan dari surat lain dalam Al-Qur’an bahwa ada nabi-nabi dan rasul-rasul yang diutus Allah. Dan telah ada pula orang-orang yang menjadi syahid dan ada pula orang-orang saleh.
Buya Hamka menjelaskan bahwa apabila Allah telah menganugerahkan nikmat rida-Nya kepada seorang hamba, tercapailah olehnya puncak kebahagian jiwa dalam hidup. Permulaan dari rida Allah itu dapat diketahui ketika tumbuh dalam jiwa keinsafan beragama, dapat berserah diri dalam Islam secara sukarela kepada Allah dan beriman secara penuh. Adanya Islam dan Iman menimbulkan Ihsan, yaitu berusaha dengan gigih memperbaiki diri dan mempertinggi mutu jiwa. Sehingga timbul nur di dalam jiwa, cahaya yang memberi sinar pada kehidupan. Dan cahaya tersebut yang menyuluhi hingga sampai akhirat.
Buya Hamka menjelaskan uraian awal dari ayat ke tujuh pada kalimat “bukan jalan mereka yang dimurkai atasnya” bahwa yang dimaksud dengan orang yang dimurkai Allah adalah orang yang telah diberi petunjuk dari rasul-rasul yang diutus Allah dengan menurunkan kitab-kitab wahyu, tetapi orang tersebut masih saja menuruti hawa nafsunya. Buya Hamka mempertegas bahwa orang yang dimurkai Allah adalah orang yang sengaja keluar dari jalan yang benar karena memperturutkan hawa nafsunya. Padahal telah sampai kebenaran agama lalu ditolak dan ditentangnya.
Wallahu'alam
