Pernahkah terpikirkan bahwa rasa yang pernah ada bisa memiliki keturunan?? Coba perhatikan sebentar dua rasa saja, cinta dan benci.
Kemudian mari kita buka lembar-lembar sejarah yang ada di bumi pertiwi, Indonesia ini. Yuk... fokus pada perjalanan beberapa kerajaan besar yang penuh kontroversi dan fenomenal.
Masuk akalkah ketika rasa dapat mempunyai keturunan?
Sebelum melanjutkan bahasan ini, yuk ,,,,,, mari bersama-sama memanjatkan do'a kepada Allah, Tuhan Semesta Alam untuk para pendahulu, orang tua, saudara, kerabat, teman dan diri kita sendiri serta setiap orang yang pernah bertemu. Allah,Tuhan Semesta Alam mengampuni dosa-dosa kita. Aamiin
Mari,,,,,,, kita melanjutkan bahasan ini. Untuk bahasan awal, yuk..... kita mencoba mengenali rasa terlebih dahulu. Ada beragam rasa dalam kehidupan ini yang dapat diketahui dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Namun rasa yang sebenarnya hanya dapat dirasakan oleh masing-masing individu. Dan tentu saja hanya diri sendiri yang mengetahui kebenaran rasa yang ada. Dalam kehidupan ini ada unsur kehidupan, rasa cenderung ada pada unsur apakah? Awalnya rasa lebih mengarah pada sifat udara, sebab tidak terlihat dan tak dapat disentuh, tetapi ada. Namun ketika diperhatikan kembali ada kalanya rasa mengarah pada sifat air, sebab terlihat dan dapat disentuh tetapi tidak dapat digenggam. Lantas, apakah rasa mengarah pada unsur tanah ataukah unsur api ?? oh rasa...... suka berubah-ubah, ternyata. Sebab rasa bukan udara dan bukan air. Juga bukan tanah dan bukan api.
Aduh.... ada panggilan alam. Saya pending dulu yach.. semoga berkenan untuk menunggu.
