Berpikir, Berbagi & Berarti Merangkai Makna Hidup

Menyukai ini:

Ketika Rasa Mempunyai Keturunan (2)

Rasa bukan udara  dan bukan air. Juga bukan tanah dan bukan api. Meskipun kehadiran rasa, terkadang mirip dengan sifat-sifat pada unsur kehidupan.

Ada kedinamisan dalam rasa, yang hanya dapat dirasakan oleh yang merasakan. Dan  apa yang dirasakan inilah yang menjadi  bagian dari pengalaman tiap-tiap individu. 

Ketika membaca kembali judul bahasan ini.  Tentu ada beberapa pertanyaan. Nach... Ada 2 pertanyaan yang akan diulas pada bahasan ini, yaitu :

Apa keturunan dari rasa ???

Bagaimana bisa rasa mempunyai keturunan ???

Terima kasih sudah bersedia dan sabar menunggu.  Baiklah,, mari melanjutkan kembali bahasan yang sudah tertunda. Bahasan ini mengulas 2 pertanyaan saja yach... Apabila ada pertanyaan yang lainnya atau ada pertanyaan dari bahasan ini,  Pertanyaan dapat dituliskan di kolom komentar

Jawaban untuk pertanyaan pertama, Turunan rasa adalah keturunan dari rasa. Lho.... kok bisa??? yuph... Mari langsung pada ulasan pertanyaan kedua yach agar lebih jelas... Namun sebelumnya, mari bersama-sama menyimak cerita fiktif berikut, untuk lebih mudah dalam memahami bahasan ini.

Nasya dan Reysa bersahabat baik. Mereka mengikuti perlombaan menyanyi. Reysa menjadi juara pertama pada lomba menyanyi sementara Nasya tidak mendapatkan juara. Hari itu, Resya meluapkan kegembiraannya secara berlebihan di depan Nasya. Padahal Nasya saat itu merasa sedih karena tidak mendapat juara. Sejak saat itu Nasya terlihat menjauhi Reysa sehingga hubungan mereka renggang. Melihat perubahan sikap Nasya tersebut, Reysa menjadi sedih.

Penjelasan ulasan pertanyaan kedua dari uraian cerita,

Deskripsi rasa & turunan rasa Mimveda

DALAM DIRI RESYA.Dari cerita fiktif tersebut, dapat diketahui rasa yang ada dalam diri Reysa.Ada rasa senang dalam diri Reysa namun kemudian ada rasa sedih dalam diri Resya. 

Deskripsi rasa & turunan rasa Mimveda

DALAM DIRI NASYA.Dari cerita fiktif tersebut, dapat diketahui rasa yang ada dalam diri Naysa. Ada rasa kecewa dalam diri Naysa namun kemudian ada rasa marah dalam diri Nasya. 

Alhamdulillaah,,, ulasan untuk pertanyaan kedua sudah tersampaikan. Rasa dalam diri individu  A bertemu dengan sikap yang ada pada diri individu A, sehingga dapat menjadi "turunan rasa". Dapat dikatakan juga, "turunan rasa" sebagai hasil kolaborasi antara rasa dan sikap yang ada pada individu tersebut.

STOP, menyalahkan orang lain terhadap apa yang kita rasakan yach.... sebab semua kembali pada diri kita sendiri. Teringat pesan para pendahulu, apa yang ditanam, itu juga yang dipanen. Saatnya kembali untuk evaluasi dan memperbaiki diri sendiri, membawa pada jalan mengenal diri.

Kebenaran hanya milik Allah, Tuhan Semesta Alam. apa yang ada dalam bahasan  ini bagian dari pembelajaran dalam penelusuran makna hidup. Apabila ada yang tidak berkenan, saya minta ma'af.

Menyukai ini: