Belajar Sepanjang Hayat
Langkah demi langkah, sudah terlewati dalam perjalanan waktu ini. Detik tiap detik waktu mengiringi perjalanan ini. Sudah lebih dari 1.292.976.000 detik terlewati. Sudah begitu banyak keinginan yang singgah dan terpenuhi? Lantas sampai kapan terus mengikuti keinginan yang tak ada habisnya ini?
Pertanyaan yang melintas pikiran ini pun membawa pada ruang refleksi diri. Bagaimana membersihkan diri dari keinginan-keinginan di masa lalu yang sudah terlanjur diperturutkan? Bagaimana agar tidak selalu memperturutkan keinginan-keinginan yang ada saat ini? Bagaimana agar dapat istiqomah selama hayat masih di kandung badan?
Dari zaman Nabi Adam AS hingga zaman Nabi Muhammad SAW, puasa sudah dijalankan. Salah satu jalan untuk membersihkan diri, bertobat dan mendekatkan diri pada Allah, Tuhan Semesta Alam.
Mengapa tidak mengikuti jalan para pendahulu?
Puasa sebagai Pelatihan Pengendalian Diri
Saat mata terbuka dan tersadar dari tidur yang lelap, keinginan pun sudah datang menyapa. Keinginan mengajak bangun dari tidur atau kembali memejamkan mata untuk masuk kembali ke alam mimpi. Ada dua rupa keinginan yang saling berlawanan menghampiri, saat itu pun keinginan menunggu dengan wajah manis. Keinginan manakah yang diperturutkan?
Ketika keinginan kembali memejamkan mata untuk masuk kembali ke alam mimpi, diperturutkan. Waktu tetap berjalan detik tiap detik, selama kembali di alam mimpi. Oleh karena ada batasan berada di alam mimpi, secara otomatis mata pun terbuka, tersadar dan melihat jam dinding sudah pukul 06.30, keinginan mengajak bangun dari tidur pun tak dapat ditolak. Ada begitu banyak yang sudah terlewati ketika menuruti keinginan kembali memejamkan mata untuk masuk kembali ke alam mimpi.
Keinginan yang lain pun datang menghampiri, keinginan untuk mandi, keinginan untuk makan, keinginan untuk membersihkan kamar, keinginan untuk membuka hp, keinginan untuk menonton tv, keinginan ini dan keinginan itu. Berlanjut dan terus berlanjut hingga tidur kembali melewati hari.
Tidak semua keinginan diperturutkan oleh karenanya keinginan harus dikendalikan. Pengendalian diri dapat dilatih, salah satunya dengan berpuasa. Apabila puasa dijalankan secara berkesinambungan, atas izin Allah membawa pada proses kesadaran diri. Dengan adanya kesadaran diri, dapat memberikan pengaruh ketika menyikapi keinginan yang datang menghampiri. Proses kesadaran diri, membawa pada kejernihan pikiran dan ketenangan hati. Pengendalian diri dapat terjadi ketika ada kejernihan pikiran dan ketenangan hati.
Pada awalnya puasa memang hanya menahan lapar dan menahan haus, dan hal ini memang perlu agar tubuh terbiasa dengan kondisi lapar dan haus. Namun pada perjalannya, atas izin Allah akan ada proses kesadaran diri dan proses pengendalian diri.
Setelah ada proses kesadaran diri dan pengendalian diri, jalan untuk mengikuti para pendahulu dapat ditempuh. Jalan untuk membersihkan diri, jalan untuk bertobat dan jalan untuk mendekatkan diri pada Allah, Tuhan Semesta Alam.
Gaya Hidup dengan Pandangan Baru
Bertambahnya usia, dari kepala 1 menuju kepala 2 lanjut menuju kepala 3 hingga sampai di kepala 4, tak tahu sampai kepala berapakah akan berakhir perjalanan waktu di dunia ini. Namun yang jelas, sampai di kepala 4 berarti perlu untuk mempersiapkan diri untuk menerima akhir perjalanan yang belum diketahui.
Gaya hidup dalam Perjalanan lebih dari 1.292.976.000 detik perlu untuk mengalami perubahan. Sebab adanya perubahan tersebutlah dapat diperoleh pelajaran. Terkadang ada yang perlu untuk dilepaskan namun ada yang perlu untuk tetap dipertahankan. Dan dari yang dipertahankan dapat dikembangkan.
Mengingat usia yang sudah masuk kepala 4 dan perlunya pengendalian diri dalam perjalanan waktu, jalan untuk mengikuti para pendahulu dapat dimodifikasikan dengan gaya hidup yang saat ini dijalankan. Bukankah sudah jelas tersampaikan, ada dalam surat pembuka pada ayat terakhir?
Para Nabi sebagai pendahulu dan dipercaya Allah, Tuhan Semesta Alam senantiasa menjalankan puasa, lantas mengapa tidak mengikuti jejak para Nabi tersebut yang sudah terpercaya?
Bukankah puasa bagian dari jalan menuju keselamatan yang membawa pada kebahagiaan dunia sekaligus akhirat?
Mengapa tidak dimulai dari sekarang, tanpa melihat kepala berapa pun? Bukankah akhir perjalanan tak ada yang mengetahui?
