Memilih beraktivitas cukup di rumah saja sudah dimulai sejak akhir 2012. Aktivitas saat itu terarah pada pengembangan usaha kemitraan bersama dengan Fastco Indonesia, dimana aktivitas kerja cukup dijangkau dari rumah sebab sistem kerja yang ada dapat diremote control dari rumah.
Sejak saat itu, interaksi hanya terbatas dengan relasi kerja dan keluarga serta lingkungan sekitar saja. Hal ini mendorong pikiran untuk dapat menjelajah dunia meski cukup dengan di rumah saja.
Bukankah pengetahuan diperoleh melalui proses dari apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicermati, apa yang dipahami, apa yang dianalisa dan apa yang disimpulkan?
Bagaimana pikiran dapat menjelajah dunia ketika hanya berada di rumah saja? sementara pikiran hanya menetap dalam raga yang hanya berada di dalam rumah saja. Meskipun perasaan sudah merasa nyaman dan raga terbiasa ketika hanya cukup di rumah saja namun pikiran berontak ingin berkelana.
Pikiran pun mulai memperhatikan situasi dan kondisi yang ada, membaca pergerakan selama 24 jam mengidentifikasi aktivitas selama berada dalam rumah. Pikiran menyadari bahwa keinginan berkelana hadir ketika berada pada waktu-waktu luang dan diluar aktivitas kerja bersama Fastco Indonesia serta aktivitas pekerjaan rumah, lebih tepatnya ketika raga hanya terdiam tanpa aktivitas.
Pikiran membuka lembaran-lembaran pengetahuan sebelum menetapkan untuk beraktivitas cukup di rumah saja. Kisaran awal tahun 2004 saat berada di dunia perkuliahan, pikiran sudah mulai mengenal internet dan proses pencarian dengan browser. Aktivitas browsing semakin meningkat ketika mencari referensi metode pembelajaran ARIAS dalam proses pengerjaan skripsi.
Saat pikiran melakukan aktivitas browsing, pikiran harus mengajak raga untuk datang ke warnet (warung internet) dan mengeluarkan biaya perjam untuk dapat melakukan aktivitas browsing. Perjalanan waktu pikiran serng mengajak raga untuk singgah ke warnet dan membawa pikiran bertemu dengan dunia blog.
Saat berada di duna blog, pada awalnya pikiran hanya senang beselancar saja sebagai pembaca. Namun kemudian pikiran mulai tertarik juga untuk menjadi penulis di blog. Ketertarikan pikiran di dunia blog mengarahkan pikian untuk browsing cara membuat blog. dari proses pembuatan blog, Pikiran mendapatkan pengetahuan tentang email. Saat itu email yang dibuat menggunakan pelayanan yahoo.
Kisaran tahun 2009, Pikiran semakin sering berada di dunia blog. Dan di waktu itu juga pikiran bertemu dengan Facebook dan saat itu juga mulai mengetahui adanya akun. Pikiran mulai mempelajari tentang akun sekaligus facebook. Sejak menggunakan facebook, pikiran mulai dapat memahami keberadaan akun dan email. Pertemuan dengan Facebook menjadi pintu untuk pikiran bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Namun saat itu, pikiran masih harus mengajak raga untuk berjalan menuju warnet. Hingga kemudian pikiran mengajukan usulan untuk bekerjasama dengan telkom dengan menggunakan indi home. Adanya kerjasama tersebut menjadikan pikiran lebih leluasa bergerak. Dan hal inilah yang dapat mengingatkan pikiran untuk tetap baik-baik saja meski hanya di rumah saja. Pikiran masih dapat bergerak bebas.
- Setelah pikiran bernostalgia dengan lembaran-lembaran pengetahuan dari perjalanan sebelum tahun 2012 dan menemukan pintu agar tidak terkurung dalam raga. Pikiran mulai dapat meredam pemberontakan dirinya yang terkurung dalam raga. Pikiran masih bisa menjelajah meskipun hanya di rumah saja. Memperhatikan pikiran yang sudah mulai tenang. Perasaan pun menjadi lebih nyaman namun ada kekhawatiran pada raga yang kurang bergerak.
